Tiga Pekan Pasca Banjir Bandang, Pesantren di Aceh Tamiang Masih Terkubur Kayu

Tiga Pekan Pasca Banjir Bandang, Pesantren di Aceh Tamiang Masih Terkubur Kayu

EPICTOTO — Tiga pekan setelah diterjang banjir bandang, suasana muram masih menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang. Pemandangan yang terlihat pada pertengahan Desember 2025 adalah lanskap yang berubah total, di mana tumpukan kayu gelondongan raksasa menguasai area yang dahulu ramai dengan aktivitas santri.

Gunungan Kayu Setinggi Gedung Dua Lantai

Di lingkungan pesantren, kayu-kayu besar yang tersapu arus masih bertumpuk tak tersentuh. Ketinggian tumpukan itu luar biasa, menyamai bangunan dua lantai atau sekitar 10 meter. Foto udara dengan jelas merekam betapa masifnya volume material yang dibawa oleh banjir bandang tersebut, mengubur sebagian besar halaman dan fasilitas.

Area Asrama dan Kolam yang Berubah Wajah

Area belakang pesantren, yang sebelumnya merupakan kawasan asrama santri putra dilengkapi kolam ikan dan perkebunan, kini berubah menjadi lapangan pembuangan kayu. Potongan-potongan kayu besar memenuhi setiap sudut, menghapus jejak fungsi asli lahan tersebut.

Bangunan Utama Masih Kokoh di Tengah Runtuhan

Di tengah lautan kayu gelondongan, bangunan masjid dengan kubah hijau masih berdiri dengan kokoh, menjadi simbol ketahanan. Warga dan santri terpaksa menyaksikan kondisi ini dari koridor lantai dua yang masih menunjukkan jejak genangan air. Ruang belajar dan pondokan santri di lantai atas memang masih utuh, namun bagian lantai satu nyaris seluruhnya terkubur lumpur dan kayu.

Bekas Banjir yang Masih Membekas

Dinding-dinding bangunan masih menampilkan garis-garis kotor bekas lumpur dan air banjir yang mencapai dekat atap lantai dua, menjadi pengingat dahsyatnya kekuatan air saat itu. Akses menuju bangunan pun sangat terbatas, hanya bisa dilalui dengan memanjat dan berjalan di atas tumpukan kayu yang tidak stabil.

Barang-Barang Santri yang Terendam

Barang-barang pribadi milik para santri masih teronggok di dalam ruangan, dalam kondisi terendam dan berlumpur. Pemandangan ini semakin menyiratkan betapa cepatnya evakuasi harus dilakukan dan besarnya kerugian materi yang dialami.

Proses Pemulihan yang Berjalan Perlahan

Pengurus Pondok Pesantren Darul Mukhlisin saat ini masih berupaya keras memulihkan kondisi secara bertahap. Namun, skala kerusakan dan volume material kayu yang harus dibersihkan jauh melampaui kapasitas mereka. Oleh karena itu, mereka secara terbuka menyampaikan permohonan bantuan nyata dari pemerintah.

Panggilan untuk Bantuan Pemerintah

Permintaan utama adalah penanganan segera terhadap gunungan kayu gelondongan tersebut. Tanpa alat berat dan dukungan logistik yang memadai dari pihak berwenang, upaya pembersihan dan pemulihan total pesantren untuk kembali beraktivasi diprediksi akan memakan waktu sangat lama. Dukungan tersebut dinilai penting bukan hanya untuk membersihkan lokasi, tetapi juga untuk memulihkan kehidupan pendidikan ratusan santri yang terdampak.

 

bukalapak88.id