ANGKARAJA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyusun tiga skenario pembelajaran khusus yang akan diterapkan di satuan pendidikan wilayah terdampak bencana di Sumatra. Rencana ini mulai diberlakukan pada semester genap tahun 2026, dengan pendekatan bertahap yang disesuaikan dengan kondisi pemulihan daerah.
Fase Awal: Tanggap Darurat (0-3 Bulan)
Pada fase kritis ini, fokus utama adalah penyesuaian kurikulum dengan menitikberatkan pada kompetensi esensial. Materi pembelajaran difokuskan pada literasi dan numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, dukungan psikososial, serta informasi mitigasi bencana.
Selain penyederhanaan kurikulum, Kemendikdasmen juga menyiapkan bahan ajar darurat dan metode pembelajaran yang sangat fleksibel. Asesmen atau penilaian belajar pada tahap ini juga disederhanakan. Tidak ada penilaian formatif atau sumatif yang kompleks. Prioritas utama adalah memastikan kehadiran, keamanan, serta kenyamanan siswa di tengah situasi yang belum stabil.
Fase Transisi: Pemulihan Pembelajaran (3-12 Bulan)
Memasuki bulan ketiga hingga setahun setelah bencana, pemerintah menerapkan skenario pembelajaran transisi. Fase ini diperlukan karena banyak sekolah membutuhkan waktu cukup lama untuk dibangun kembali atau diperbaiki.
Program pemulihan pembelajaran dijalankan dengan pendekatan fleksibel dan diferensiasi, yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa. Beberapa penyesuaian yang diterapkan antara lain penjadwalan yang mempertimbangkan kondisi siswa yang mungkin masih mengungsi, penerapan blended atau hybrid learning jika memungkinkan, serta pengelompokan siswa berdasarkan tingkat pencapaian belajar.
Asesmen pada Masa Transisi
Sistem penilaian selama masa transisi juga mengalami penyesuaian. Asesmen lebih mengutamakan portofolio atau unjuk kerja sederhana. Remedial atau pembelajaran perbaikan diberikan secara berkelanjutan, khususnya bagi siswa yang terdampak berat. Selain aspek kognitif, penilaian juga mencakup perkembangan sosio-emosional siswa sebagai bagian dari proses pemulihan menyeluruh.
Langkah-langkah ini dirancang untuk memastikan keberlanjutan pendidikan sekaligus memberikan ruang bagi proses pemulihan psikologis dan fisik seluruh warga sekolah di daerah terdampak.